Check out my piZap pic - created at pizap.com

sholawat aris.solaloh ngalla yasin

Haqqul Mustofa - Assolatu Alan Nabi.mp3


MP3


FACABOOK NAMA:FUAD HASAN

PESANTREN "DARUSSALAM"'s Fan Box

THE ANAKRAINBOW's Fan Box

http://www.987genfm.com/streaming
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Windows Live Messenger

PESANTREN DARUSSALAM created at pizap.com

DUNIA

Senin, 26 April 2010

  1. Barangkali sebab paling nyata, mengapa kita tidak mampu menjadi penyanjung dan pendukung kehidupan indah (hasanah) sebagaimana digambarkan al-Qur’an dan telah diperagakan dengan paripurna oleh Rasulullah saw., adalah akibat “keterbatasan” kita dalam memahami al-Qur’an itu sendiri.

    Sehingga dalam realitas hidup sehari-hari al-Qur’an seakan-akan menjadi tidak fungsional lagi (berdaya guna) sesuai fungsi diturunkannya sebagai pedoman hidup bagi manusia (hudan li an-naas).

    Bahkan yang sering kita jumpai justru sebaliknya, al-Qur’an telah menjadi “pedoman hidup” sesudah mati [di akhirat], buktinya apabila ada orang Islam meninggal dunia pasti dibacakan [itu pun melalui tape recorder] ayat-ayat al-Qur’an. Atau dibacakan ketika ada orang menjelang mati (menghadapi sakarat al-maut).

    Demikian pula [muskhaf] al-Qur’an telah menjadi atau kita jadikan sebagai “benda suci” [keramat] yang harus disimpan di tempat suci [pantas] dan dibaca (disentuh) oleh orang-orang suci [agamawan] pada waktu dan peristiwa suci [khusus] pula. Itu pun seringkali hanya dibaca-baca [bagaikan mantra] tanpa harus mengerti maknanya.

    Dengan demikian, membaca al-Quran bukan menjadi bagian integral hidup, tetapi sekadar merupakan item tambahan dari sejumlah kegiatan hidup setiap muslim. Jadi lebih bersifat artifisial dan seremonial demi kepantasan dan kelaziman.

    Maka tidak mustahil jika al-Qur’an pada akhirnya hanya berfungsi semacam mantra yang bisa digunakan untuk mengaduk-aduk [mendinginkan, menyejukkan atau menghangatkan] suasana dan perasaan kita, itupun hanya bersifat temporer untuk sementara waktu saja.

    Oleh karena itulah maka al-Qur’an sampai detik ini tidak pernah lagi mampu menjadi ruh pembangkit budaya dalam rangka membangun sebuah peradaban yang gemilang dan sekaligus menjadi cerminan kehidupan jannah di akhirat kelak.

    Satu hal yang hampir-hampir hilang dari kesadaran kita, adalah bahwa al-Qur’an merupakan petunjuk [dasar atau landasan teori] dalam memandang dan menjalani realitas hidup di dunia ini hingga sampai kepada kehidupan di akhirat kelak.

    Dan al-Qur’an yang diturunkan Allah melalui rasul-Nya kurang lebih satu setengah milenium yang lalu, telah secara obyektif [ilmiah] dibuktikan kebenarannya oleh Nabi Muhammad saw. beserta para pendukungnya paling tidak dalam 23 tahun masa kenabian ditambah 40 tahun masa khilafah rasyidah.

    “Kesalahan” kita selama ini barangkali karena ternyata kita telah mengkaji al-Qur’an tidak menurut [berdasar] keterangan atau informasi [ilmu] yang diajukan oleh al-Qur’an itu sendiri, seperti halnya yang telah dilakukan oleh Rasulullah.

    Biasanya yang kita lakukan adalah sekadar mengaji [bukan meng-kaji] dengan orientasi mencari pahala dan menebus dosa. Sehingga yang kita lakukan dalam menanggapi al-Qur’an adalah menurut sudut pandang [metodologi] subyektifisme kita sendiri (Q.S. al-Jatsiyah: 23).

    Padahal, berbeda halnya dengan pendekatan (approach) yang biasa kita lakukan terhadap kitab-kitab ilmu [pengetahuan] yang lain, al-Qur’an disamping merupakan informasi [ilmu] juga mengajukan teori ilmu-nya sendiri.

    Sehingga siapa pun yang mau mengkaji dan memahaminya secara benar, harus menurut [berdasar] sudut pandang al-Qur’an itu sendiri. Dengan kata lain, dalam kerja fungsionalnya al-Qur’an yang kita kaji tersebut berkedudukan sebagai subyek yang menentukan (walqur’anu imami) pandangan kita tatkala melakukan kajian atau studi.

    Dan kedudukan kita yang mengkaji adalah kedudukan “antara” [diantara subyek dan obyek], yakni merupakan wakil subyek (khalifah). Namun dalam kedudukannya sebagai makhluk organis-biologis, kita adalah obyek studi [obyek kajian], seperti halnya makhluk-makhluk lain yang ada di alam semesta.

    Bila digambarkan secara sederhana, maka bentuk (struktur) pandangan manusia sebagai wakil subyek adalah seperti sketsa berikut ini (lihat gambar 1).

    Sudut A adalah Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta, Pemilik, Penguasa, Penentu dan Pemasti alam semesta beserta segala ujud kehidupan di dalamnya.

    Sudut B adalah rancangan kepastian dari Allah (qadar) yang telah diturunkan kepada manusia berupa Kitab-kitab Suci [termasuk al-Qur’an], yang berbicara tentang semesta kenyataan alam dan kehidupan yang tergantung kepada Allah.

    Sudut C adalah alam semesta seisinya yang merupakan bukti kenyataan (qadla) dari rancangan kepastian Allah.

    Demikianlah bangun (struktur) pandangan al-Qur’an dalam menatap persoalan hidup, baik organis, biologis maupun budaya yang kesemuanya merupakan rancangan kepastian dari Allah yang bukti kenyataannya pun tergantung kepada Allah.

    Dari sinilah maka dapat dipahami bila yang namanya “takdir” itu memang tidak pernah dan tidak dapat diubah, dan al-Qur’an adalah “suratan takdir” yang abadi, yang merupakan turunan [semacam fotokopi] dari lauh al mahfudl. (Lihat Surat as-Syams; al-Buruj: 20-22; Yunus: 5 dll.)

    Bangun segitiga sama sisi ABC sebagai bentuk pandangan yang diajarkan Allah melalui al-Qur’an, sebenarnya memiliki tiga dimensi persoalan yang berimpit di sudut B dalam posisi sama dan sebangun.

    Pertama, sudut B-1 adalah al-Quran sebagai kalam ilahi yang masih bersifat teoritis. Yaitu landasan teori yang membicarakan hal ihwal kenyataan hidup serta apa yang seharusnya (das sollen) dilakukan untuk meraih hidup yang hasanah.

    Kedua, sudut B adalah posisi Rasulullah sebagai bentuk contoh [pola, model] kehidupan indah (uswah hasanah). Dan ini merupakan bukti kenyataan empiris (das sein) yang tidak bisa dihapus dari catatan sejarah.

    Ketiga, sudut B-2 sebagai kedudukan para mukmin yang telah mempunyai wawasan sudut pandang al-Qur’an (sudut B-1) serta mengikuti sunah rasul (sudut B) sebagai model atau pola [bentuk contoh] dalam merealisasikan seluruh pandangan dan sikap hidupnya tersebut.

    Di alam semesta, apa yang diungkapkan dalam Surat Yunus ayat 5 bisa digambarkan sebagai berikut:

    Maka bisa disimpulkan, bahwa kedudukan manusia seumumnya adalah dalam posisi sudut D. Yakni sudut kegelapan atau bahasa al-Qur’annya sudut Dzulumat.

    Untuk mendapatkan pencerahan di sudut Nur (sudut B-2), kita harus melakukan tindakan-tindakan berdasarkan apa yang telah diinformasikan oleh Allah melalui sudut B-1 seperti halnya yang telah dicontohkan oleh Rasulullah melalui sudut B.

    Misalnya untuk menjawab persoalan, “Bagaimana cara mengkaji al-Qur’an menurut al-Qur’an itu sendiri?” Maka biarkanlah al-Qur’an tersebut memberikan instruksi, teknik dan prosedurnya, dan kemudian kita tinggal mengikutinya.

    Jangan ketika al-Qur’an belum selesai memberikan instruksinya kita keburu interupsi. Maka yang terjadi adalah seperti yang selama ini kita lakukan, yakni seperti dongeng Sisipus yang mendorong batu ke puncak bukit, begitu sampai di atas akan menggelinding ke bawah lagi, kita dorong lagi, meluncur lagi … begitu seterusnya berulang-ulang.

    Ibarat dokter yang bisa menyembuhkan pasiennya, Tuhan sebenarnya telah membuat jadwal “Jam Bicara” yang sangat detail dalam Surat al-Muzzammil ayat 1 sampai 19. Maka yang harus kita lakukan sebenarnya sederhana saja.

    Jadilah pasien yang baik, janganlah jadi pasien yang sok tahu. Selintas: Pasien Kurang Ajar Bahkan ada pasien yang kurang ajar, karena justru dokternya yang disuruh oleh pasien tersebut. Hopo tumon?

Jumat, 26 Februari 2010

Muhammad menyebut ibadah ini tiang agama, yang wajib dikerjakan
setiap umat Islam. Tetapi, pernahkah kita merenungi secara lebih dalam makna
shalat sesungguhnya? Dimulai dari takbir hingga ditutup salam, shalat mengisyaratkan simbol dan lambang yang luar biasa. Takbir (Allahu Akbar) adalah pertanda kita sudah
memasuki istana Maha Raja. Pintu dunia yang penuh dengan hiruk pikuk, harta,
dan jabatan kita tinggalkan, untuk kemudian, kita tapaki dimensi baru:
keterpesonaan jiwa kepada-Nya. Takbir juga mengisyaratkan ketidakberdayaan seorang hamba di hadapan Tuhan.
Karena itu seorang hamba selalu menundukkan pandangannya seusai bertakbir.
Simbol ini melahirkan rasa tawaddhuk (rendah hati), tidak sombong dan
angkuh. Saat berdiri tegap, wajah kita tak boleh menoleh ke kiri maupun ke
kanan, melainkan menatap lurus ke tempat sujud (tanah). Memandang tanah adalah simbol bahwa hidup manusia akhirnya akan kembali ke tanah.
Itulah sebabnya pada doa iftitah kita berikrar 'Inilah wajah batinku,
pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk-Mu ya Allah.' Akhirnya, shalat ditutup dengan salam. Itu berarti bahwa hidup haruslah
berakhir dengan hati yang salam (damai), merdeka, dan tidak lagi terpenjara
oleh urusan dunia. Gerakan shalat mulai dari awal hingga akhir memiliki nilai filosofis.
Di sini hamba Tuhan harus bergerak, dinamis, kreatif, dan aktif untuk
mengembangkan diri menuju kemerdekaan berbuat, tetapi bukan tanpa aturan.
Dalam kreativitas itu seseorang yang mendirikan shalat sesungguhnya tengah
tenggelam dalam keasyikan pelukan Ilahi yang tak terperikan.
Demikianlah filosof besar asal Pakistan, Muhammad Iqbal, melukiskan
keasyikan itu lewat kata-kata, "Berapa lamakah kau 'kan tetap menggelepar
menggantung di sayap orang? Kembangkan sayapmu sendiri dan terbanglah lepas
seraya menghirup udara bebas di taman luas." Berdiri dalam shalat mengandung arti kita tidak selamanya muda, berjaya,
atau berdiri kuat, tetapi juga berubah jadi rukuk --sebuah simbol adanya
saat kita bisa rapuh, berumur setengah baya, dan kekuatan pun berkurang. Sementara itu, kewajiban harus tetap dijalankan sebagai bekal untuk menuju
sujud --simbol tanah, tempat asal kita diciptakan dan dikembalikan.
Maka, akhirilah hidup kita dengan salam (hati yang bersih).
 PONDOK PESANTREN DARUSSALAM CIPAWON BUKATEJA PURBALINGGA!

SELAMAT BULAN BESAR NABI MUHAMMAD SAW. 01 MARET 2010TM@